Rabu, 20 Februari 2008

Ulang Tahun Solo

HUT Solo dan Kontroversi Keris
Menyaksikan peringatan HUT ke-263 Kota Solo pada Minggu (17/2) di Halaman Balai Kota Solo, Jawa Tengah, mengingatkan aku pada suasana keraton, baik Solo maupun Yogyakarta. Bagaimana tidak, semua orang yang ikut upacara menggunakan pakaian adat Jawa lengkap dengan blangkon dan keris. Wali Kota Solo Joko Widodo-akrab disebut Jokowi-pun menggunakan pakaian kebesaran layaknya raja yang naik di singgasananya.
Tidak ketinggalan pula, seragam Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)-polisi yang satu ini identik dengan gusur-menggusur-yang biasanya berwarna coklat, berubah total. Semua pakaian dan atribut diganti layaknya prajurit keraton "lombok abang" lengkap dengan tombaknya. Namanya pun juga berubah menjadi Prajurit Reksa Praja.
Tidak hanya seragam dan atribut, semua aba-aba juga menggunakan bahasa Jawa. Hanya pembacaan UUD '45 dan Pancasila saja yang tetap menggunakan bahasa Indonesia-mungkin takut dikatakan tidak nasionalis. Pada hari itu juga Jokowi mencanangkan pencantuman aksara Jawa pada papan nama baik di kantor maupun tempat-tempat umum lain.
Gaung dan kesan upacara ternyata tidak hanya pada hari itu saja. Hal tersebut dipicu dengan adanya perbedaan peserta upacara dalam menggunakan keris, miring ke kanan atau ke kiri. Bahkan hal itu menjadi bahasan utama di salah atu koran lokal di Solo.
Apapun itu, semuanya sangat berkesan bagi aku. Ini pengalaman pertama bagiku, bahkan di Kota Yogyakarta hal ini tidak dijumpai.
Sekali lagi selamat kepada Solo, selamat berbebah, selamat berubah, dan selamat tambah usia.

Tidak ada komentar:

 

Copyright 2007 ID Media Inc, All Right Reserved. Crafted by Nurudin Jauhari