Minggu, 07 September 2008

Bunga-bunga Merapi



Minggu, 08 Juni 2008

Rehat Sejenak (Tari Lengger)

Model: NIKON D3
ISO Speed: 2500
Date: 2008:06:07 20:18:12
Aperture: 2.8
Quality: Very High
Focal lenght: 155 mm
Flash: No
Exposure prgm: Manual
Light source: Tungsten
Exposure: 1/60 Sec
(catatan: dengan iso 2500, kualitas hasil dari kamera ini memang luar biasa, noise dan graini hampir tidak muncul. benar-benar revolusi kamera nikon digital, setelah seri sebelumnya, nikon sangat lemah untuk cahaya lemah dan asa/iso tinggi)







Senin, 02 Juni 2008

Home Sweet Home

Rehat sejenak, menikmati libur cuti. Meski tiga hari, tapi nikmat dan kesannya sangat mendalam. Menemani bapak kontrol ke rumah sakit dan nemanin ibu belanja ke Pasar Beringharjo. Pilih-pilih batik pun tak terhindarkan. Sarung dan kemeja batik berhasil di genggaman. Tak lupa membeli oleh-oleh buah untuk keponakan di rumah.
Memang benar, rumahku adalah istanaku, sejelek apapun rumah ku itu. Aku diajak kembali mengenang memori lama yang tertancap tajam dalam hati dan pikiranku. Di rumah inilah aku tumbuh dan berkembang hingga seperti saat ini. Tidak ada yang istimewa dari rumahku, yang istimewa adalah penghuni rumah itu.
Berusaha menjadi anak yang baik ternyata tidak mudah. Kadang kita perlu diingatkan bahwa kita masih mempunyai orang tua dan saudara yang hebat. Diingatkan entah oleh orang tua atau saura kita sendiri atau malah diingatkan saat musibah atau maut menjeput salah satu dari mereka. Aku tidak mau itu terjadi, aku tidak mau terlambat menyadari kalau aku mempunyai mereka yang hebat itu saat mereka telah tiada. Aku tidak mau menyesal kemudian.
Menjadi yang terbaik bagi mereka adalah impian kita. Tapi mampukah kita menyingkirkan ego kita-entah karena pekerjaan atau waktu-tidak punya waktu untuk mereka. Satu kalimat yang sampai sekarang terus terngiang-ngiang di kepalaku yang diucapkkan oleh ibu' "le, kok suwe ora telepon opo muleh to? ora kangen karo bapak ibu yo? e nek anak ki durung mesti kangen karo wong tuwo, ning wong tuwo ki mesti kangen terus karo anake!."
Semoga kita bisa menjadi manusia yang bijak, bijak membagi waktu, bijak menyayangi orang tua dan saudara kita sebagaimana kita menyayangi diri kita. Mereka butuh kehadiran kita, tidak hanya suara ataupun uang kita semata.

Kamis, 29 Mei 2008

Imajiner Cahaya

Permainan cahaya oleh Joko Sriyono, mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, "menghidupkan" penampilan kelompok musik perkusi Sipakatu Esamble di Teater Besar ISI Solo, Jawa Tengah, Selasa (27/5) malam. Pertunjukan cahaya dengan tajuk "Imajiner Cahaya" ini sebagai hasil eksplorasi untuk memberikan dimensi, nuansa, dan imajinasi yang berbeda dari sebuah pertunjukan panggung. Yaaaa ............., gambar ini sengaja aku munculkan untuk memberikan kesempatan mata dan hati kita sejenak beristirahat. Rehat menikmati sisi lain kehidupan. Tidak selamanya hidup itu susah. Seorang kawan pernah berujar "urip ki wis susah, ojo mbok gawe susah"-hidup sudah susah, jangan kau buat tambah susah.
Makanya, menikmati hidup adalah pilihan yang tepat, entah jadi apapun kita saat ini. Menjadi wartawan, nikmati aja jadi wartawan, jadi wartawan yang bener dan pener. Menjadi mahasiswa, nikmati aja status mahasiswa, naik bus murah, makan di sekitar kampus juga murah, duit masih di subsidi orang tua. Jadi penganggur, nikmati aja penggangguram ini, wong pemerintah aja nggak pernah ribut dan pusing mikiran penganggur, padahal mereka yang berkewajiban dan punya tanggungjawab menyediakan lapangan pekerjaan. Jadi, nikmati aja status kita saat ini.

Rabu, 21 Mei 2008

Rakyat dan Mahasiswa Kembali Ke Jalan


Rencana pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak atau BBM memicu reaksi beragam dari masyarakat. Pro kontra tentang kebijakan ini tidak hanya terjadi pada tataran wacana di media massa atau sesi-sesi ilmiah di televisi maupun di kampus, melainkan sudah sampai ke masyarakat paling bawah.
Hal tersebut ditunjukkan dengan sikap dan aksi yang beragam dari masyarakat-dengan motor penggeraknya mahasiswa. Reaksi pertama yang muncul adalah munculnya unjuk rasa hampir di seantero penjuru negeri ini. Reaksi lain yang juga tidak kalah semarak adalah serbuan warga untuk membeli bbm di SPBU. Hal ini diyakini sebagai bentuk kepanikan dan ketidaksiapan masyarakat akan penerapan kebijakan baru.
Unjuk rasa tidak hanya terjadi di Jakarta, khususnya di depan Istana Negara dan Bunderan HI, tetapi juga di hampir seluruh kota. Di Jakarta, petugas kepolisian memasang kawat berduri untuk menghalangi arus mahasiswa yang mencoba menduduki Istana. Di Solo, mahasiswa punya car lain, yaitu mendorong sepeda motor dengan tulisan "bensin habis" di pelat motor.
Akan tetapi suara-suara tersebut nyaris tak terdengar oleh penguasa. Berdalih "penyelamatan" APBN pemerintah bergeming dengan menaikkan harga BBM per 23 Mei 2008. Apakah ini pertanda bahwa penguasa sudah tidak punya "telinga" untuk mendengar suar-suara rakyat? atau pemerintah sudah tidak punya "hati" sehingga tidak bisa berempati dengan penderitaan rakyat?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi PR penting bagi kita semua untuk menjawabnya. Jika memang jawabnya "Ya" pemerintah yang saat ini tidak memiliki telinga dan hati, maka jangan berharap mereka akan berkuasa lagi.
"Menolak Tunduk, Bangkit Melawan. Atau Mati Demi Kebenaran, Karena Mundur Adalah Pengkhianatan."

Senin, 07 April 2008

Pra Karnaval Batik Solo

Persiapan Peserta
Menjelang perhelatan akbar di Solo, yaitu Karnaval Batik Solo, pada 13 April 2008, para calon peserta mulai mempersiapkan kostum yang mereka rancang sendiri. Selain dipresentasikan kepada instruktur-dari Jember Fashion Carnaval-kostum mereka juga dipresentasikan kepada sesama peserta di Kompleks Balai Kota Solo, Jawa Tengah, Minggu (6/4/2008). Selaian presnetasi kegiatan ini juga untuk mendapat masukan sehingga saat hari H nya mereka bisa tampil maksimal.
Acara ini memang bukan sesuatu yang segar atau fresh. Acara ini memang mencoba mengekor kesuksesan pelaksanaan Jember Fashion Carnaval (JFC) yang sudah berjalan beberapa tahun. Acara yang rencananya akan diikuti sekitar 250 peserta ini mengangkat tema wayang. Maka jangan kaget apabila kostum yang dipakai peserta banyak terinspirasi dari tokoh-tokoh wayang. So, siap-siap saja datang di Solo. Siapkan kamera dan CF sebvanyak-banyaknya. He he he he.

Kamis, 28 Februari 2008

Sekaten

Sekatenan Nang Solo Wis Mulai
Agenda, perayaan, atau tradisi tahunan sekaten di Solo sudah dimulai, tapi baru pasar malam. Agenda lain, yang menjadi inti sekaten, ditandai keluarnya dan berbunyi gamelan Keraton Solo, masih beberapa hari lagi. Meski tidak semeriah tahun lalu, setidaknya menurut sejumlah media lokal ditandai dengan belum semua stan terjual, namun hajatan tahunan ini tetap saja menarik. Salah satu ciri khas pasar malam Sekaten adalah hadirnya sejumlah wahana hiburan rakyat, seperti rumah hantu, tong setan, komedi putar, dan lainnya. Sebenarnya ada satu lagi hiburan rakyat di pasar malam Sekaten yang paling ditunggu, yaitu pentas dangdut. Namun beberapa tahun ini, sekitar 5 tahun, musik rakyat ini sudah tidak dipertontonkan. Alasannya jelas, yaitu pentas dangdut dianggap menodai makna sekaten. Maklum saja, dalam setiap pentas dangdut, penyanyi-penyanyi yang manggung akan berdandanan seksi, mungkin seronok, dan tentu saja dengan goyang yang aduhai (yang dibelakang apa sudah siap digoyang. tangan di atas. yang jauh mendekat yang dekat merapat.....)
Menurut estimologi, Sekaten berasal dari kata Syahadat Tain, atau ucapan dua kalimat syahadat. Syahadat adalah ucapan pengakuan akan ke-Esaan Allah dan keyakinan bahwa Muhammad adalah nabi dan utusan Allah. Sekaten dijadikan sebagai ajang untuk dakwah Islam dengan pengakuan ke-Esaan Allah. Menurut cerita dahulu masyarakat dari luar daerah berbondong-bondong datang ke Alun-alun Utara untuk mendengarkan dakwah atau ceramah keagamaan. Masyarakat rela bermukim dengan mendirikan tenda-tenda di sekitar Alun-alun. Banyaknya masyarakat yang bermukim menjadi rezeki tersendiri bagi masyarakat untuk menjajakan makanan atau mungkin tempat tinggal sementara. Kegiatan ini hampir sama dengan pelaksaan umroh ataupun Ibadah Haji.
Besar dan dalam makna dari Sekaten. Tapi itu semua kadang tidak dalam kenyataan. Saat ini Sekaten lebih menonjol pada sisi hiburan bukan dakwah, sebagaimana tradisi ini pada awal mulanya.
 

Copyright 2007 ID Media Inc, All Right Reserved. Crafted by Nurudin Jauhari