Kamis, 12 Juli 2007

Bencana Lagi

Ancaman Kekeringan
Bencana dan musibah ternyata masih akrab dengan kita, masyarakat Indonesia. Ironis memang, bencana yang selalu terjadi tersebut seakan tidak diambil hikmah dan pelajaran, sehingga selalu terulang. Kekeringan, antre air bersih, padi puso, akhir-akhir ini menghiasi pemberitaan di hampir semua media massa, baik elektronik maupun cetak. Tetapi pemerintah seakan tidak belajar dari pengalaman masa lalu untuk mencari pemecahannya. Kejadian seperti warga Dusun Kalialang Baru RT 03 RW 7 Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Semarang, yang rela antre berjam-jam untuk mendapatkan air bersih yang dialirkan dari Sendang Gayam, Kamis (12/7) berlangsung setipa tahun. Kenapa semua ini terus terjadi? Tidakkan kita belajar dari kejadian masa lalu? ahh.... dasar manusiaaa.... biasanya memang mengeluh....? TAPI DIMANA PERAN PEMERINTAH????? PEMERINTAHHHH AYO BANGUNNNN, LIAT WARGAMU YANG SUSAHHH...........!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

4 komentar:

Rodrigo mengatakan...

Oi, achei teu blog pelo google tá bem interessante gostei desse post. Quando der dá uma passada pelo meu blog, é sobre camisetas personalizadas, mostra passo a passo como criar uma camiseta personalizada bem maneira. Se você quiser linkar meu blog no seu eu ficaria agradecido, até mais e sucesso. (If you speak English can see the version in English of the Camiseta Personalizada. If he will be possible add my blog in your blogroll I thankful, bye friend).

haris mengatakan...

saking banyaknya bencana, kadang kepekaan kita gak terasah lagi, mas. kadang kita yang jauh dari bencana, selalu merasa bahwa bencana adalah sesuatu yang ada tapi jauh. kita melihat dan mendengar, tapi jarang berpikir bahwa bencana itu akan menimpa kita.

Anonim mengatakan...

J'ai appris des choses interessantes grace a vous, et vous m'avez aide a resoudre un probleme, merci.

- Daniel

Anonim mengatakan...

Nudebabe [url=http://epractice.eu/en/people/194162l] naked pics[/url] art naked

 

Copyright 2007 ID Media Inc, All Right Reserved. Crafted by Nurudin Jauhari